RISET DAN KAJIAN

Riset dan Kajian diperlukan sebagai pendekatan permasalahan secara mendalam. Beberapa permasalahan lingkungan dan sosial memerlukan pendekatan ini untuk menemukan penyelesaian secara komprehensif.

Riset dan Kajian untuk topik lingkungan, sosial dan keberlanjutan dapat merupakan kewajiban yang diperlukan untuk menentukan rona dasar (baseline), dampak, dan menyusun rencana tindakan pengelolaan dan pemantauan. Contoh kajian wajib ini adalah AMDAL dan UKL-UPL. Bila suatu perusahaan atau organisasi ingin memposisikan diri lebih dari kewajiban dasar regulasi atau memenuhi standar tertentu yang lebih tinggi, maka dapat dilakukan riset atau kajian yang tidak wajib, namun penting untuk market positioning dan citra perusahaan. Contoh kajian dan riset ini adalah kajian keberlanjutan rantai pasok dan kajian dan perhitungan gas rumah kaca (GRK) dan jejak karbon (carbon footprint).

Riset dan kajian ini dilakukan dengan metode yang sesuai standar dan persyaratan yang berlaku, serta hasil riset dan kajian terdahulu yang telah diakui (proven). Setiap Riset dan Kajian yang kami laksanakan atas nama rekanan akan berpedoman pada metode ilmiah tersebut, namun tetap disesuaikan konteksnya secara spesifik dengan masalah yang dikaji dan harapan dari rekanan kami.

Prinsip kajian yang kami lakukan adalah sistematis, ringkas, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, maka hasil kajian akan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat.

REKAYASA SISTEM

Sistem yang tepat akan mampu membawa perusahaan cepat dapat menyesuaikan setiap tantangan dan perubahan permintaan pasar. Termasuk dalam aspek lingkungan, K3 dan relasi sosial.

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi dalam mencapai suatu tujuan. Komponen dan elemen sistem meliputi orang, barang, fasilitas, waktu, dan uang. Kunci dari penggerak sistem adalah interaksi antar elemen/komponen.

Dalam organisasi atau perusahaan, sistem biasanya dimanifestasikan dalam seperangkat aturan, panduan dan pedoman, atau sets of criteria, yang mengatur komponen sistem dan interaksinya.

Hasil akhir dari sistem ini adalah Produk, berupa barang atau jasa. Pada industri yang menghasilkan barang, setiap proses yang menghasilkan barang selalu memiliki hasil sampingan, yang bila tidak dapat digunakan akan menjadi limbah atau sampah. Pemahaman pengelolaan lingkungan yang lama menganut faham pengolahan limbah (end-pipe approach), dimana hal tersebut menimbulkan double cost: bahan baku dan bahan penunjang yang terpakai banyak, ditambah biaya untuk mengolah limbah.

Pada setiap proses juga dibutuhkan berbagai sumberdaya. Seringkali, proses yang kurang sistematis atau pengaturan kerja yang tumpang tindih akan menyebabkan sumberdaya menjadi tidak optimal digunakan. Hal tersebut juga berlaku pada proses pengelolaan lingkungan, K3 dan hubungan sosial perusahaan dengan masyarakat. Sebuah proses harus dibangun dengan optimasi setiap komponen/elemen sehingga tujuan pengelolaan dapat dicapai dengan sumberdaya yang minimal, namun dengan hasil maksimal. Seringkali proses rekayasa harus dilakukan dengan melakukan pengaturan ulang proses bisnis (Business Process Re-engineering/BPR).

Kami berkeyakinan bahwa pengaturan sistem yang optimal akan dapat membantu organisasi mencapai tujuannya dengan mudah dan akan mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan. Termasuk dalam aspek keberlanjutan (sustainability): pengelolaan lingkungan, K3, dan relasi sosial dengan masyarakat.  Pada akhirnya, rekayasa sistem akan menghasilkan sistem produksi yang lebih rendah limbah (produksi bersih).

REKAYASA TEKNIK

Hasil sampingan (limbah) dari setiap kegiatan dan proses produksi bersifat spesifik. Untuk itu, diperlukan penanganan teknis yang spesifik untuk tiap jenis limbah, termasuk air, udara, dan sampah

Limbah yang memang tidak dapat dihindari kehadirannya dengan upaya rekayasa sistem dan produksi bersih harus dikelola dan diolah dengan baik. Beberapa jenis limbah dapat dimanfaatkan kembali dengan sistem 5R (reduce, reuse, recycle, recovery, retrieve to energy). Sistem tersebut juga memerlukan rekayasa teknik yang baik agar dapat berjalan dengan kontinyu. Salah satu sistem penggunaan limbah untuk keperluan lain (recycle) dalam jumlah besar adalah pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit yang telah diolah sebagai substitusi pupuk organik di lahan perkebunan. 

Pengolahan limbah menjadi pilihan terakhir untuk dilakukan, karena pengolahan limbah menimbulkan biaya investasi peralatan dan biaya operasional yang cukup besar. Namun bila tidak dapat dihindari, limbah memang harus diolah, maka harus dibuat suatu unit pengolahan limbah yang paling efektif dan efisien. Pengolahan limbah ini bersifat spesifik untuk tiap jenis limbah, sumber limbah, sifat limbah, dan volume serta kontinuitas limbah dihasilkan, sehingga hasil pengolahan dapat memenuhi persyaratan yang berlaku.

PEMENUHAN STANDAR

Perkembangan kesadaran lingkungan, keselamatan kerja dan sosial beberapa waktu belakangan ini memunculkan banyak standar baru. Pemenuhan standar menjadi wajib untuk dapat bersaing di pasar global

Berbagai standar baru terus diperkenalkan di berbagai sektor industri. Standar keberlanjutan (sustainability) dan turunannya (aspek lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, kesejahteraan pekerja, dan relasi sosial) adalah salah satu standar yang menjadi isu internasional belakangan ini. Hal ini dipicu oleh meningkatnya tekanan terhadap kondisi global pada aspek lingkungan, kesejahteraan dan sosial. Hampir pada semua sektor, muncul standar keberlanjutan ini. Terutama sektor industry ekstraktif dan manufaktur.

Isu keberlanjutan sering tidak hanya menjadi standar yang secara teknis berpengaruh terhadap kondisi nyata lingkungan, kesejahteraan dan sosial, namun pada tekanan perdagangan. Namun demikian, pemenuhan terhadap standar akan menjadi nilai tawar kompetitif di pasar global.

Langkah terpenting dari pemenuhan standar ini adalah pemahaman yang utuh terhadap standar. Karena itu, kami menawarkan paket pelatihan pemahaman atas beberapa standar dalam aspek mutu, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan relasi sosial ini. Langkah berikutnya adalah menetapkan penerapan standar dalam sistem organisasi perusahaan secara sistematis. Untuk itu, dimungkinkan perlu penyesuaian atas kebijakan, sistem dan prosedur, serta pembebanan tanggungjawab kepada personil perusahaan dalam key performance indicator (KPI).

Dalam pandangan kami, sebuah pemenuhan standar yang berhasil adalah ketika operasi normal perusahaan langsung dapat memenuhi persyaratan standar, tanpa memerlukan upaya tambahan. Selain itu, penerapan sistemnya akan memberikan keuntungan langsung maupun tidak langsung bagi perusahaan, baik aspek finansial maupun non finansial